Tingkat Adopsi AI Indonesia Paling Tinggi Di Asia Tenggara

Adopsi teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/ AI) di Asia Tenggara naik dari 8 persen pada tahun lalu menjadi 14 persen, menurut laporan SAS dan International Data Corporation (IDC) Berdasarkan survei yang dilakan perusahaan analitik SAS dan IDC, Indonesia memimpin dalam pengadopsian kecerdasan buatan di bidang industri di Asia Tenggara.

Sebanyak 24,6 persen perusahaan di Indonesia mengadopsi AI. diikuti oleh Thailand (17,1 persen), Singapura (9,9 persen), dan Malaysia (8,1 persen).

Mengapa Indonesia bisa memiliki tingkat adopsi yang paling besar di Asia Tenggara, mengalahkan Singapura yang merupakan negara maju? Hal ini bisa terjadi berkat cepatnya pertumbuhan perusahaan internet di Indonesia.

Kini, perusahaan-perusahaan teknologi di Indonesia tengah bersaing ketat. Mereka berlomba-lomba untuk menyediakan jasa angkutan online, pembiayan mikro, e-commerce dan juga gaming.

Direktur Riset Global Big Data IDC Chwee Kan Chua mengatakan tingginya adopsi di Indonesia ini lantaran kedewasaan perusahaan untuk menggunakan AI sebagai cara untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi bisnis.

“Kami berharap investasi di AI akan terus meningkat, karena semakin banyak perusahaan mulai memahami manfaat dari menanamkan AI ke dalam bisnis mereka dan bagaimana data dan analisis dapat membantu menghasilkan insight baru,” ujar Chwee dalam keterangan resmi yang diterima CNNIndonesia.com, Senin (16/7).

Hasil survei juga menunjukkan bahwa lebih dari setengah responden atau sekitar 51 persen menganggap alasan utama pengadopsian AI adalah untuk mendapatkan wawasan bisnis yang lebih baik.

Alasan lainnya adalah untuk otomisasi pada proses industri (51 persen) dan meningkatkan produktivitas (42 persen). Chwee mengatakan perusahaan yang tidak menerapkan AI dalam operasi bisnis dipastikan akan kalah dengan perusahaan yang menerapkan AI.

“Dengan dampak positif yang sudah terlihat di industri perbankan, manufaktur, kesehatan dan pemerintahan, ada peluang yang besar supaya lebih banyak perusahaan di Asia Tenggara memanfaatkan AI. Penerapan AI akan mendapatkan keuntungan dari ketepatan, efisiensi dan kelincahan inovasi yang lebih besar, sebagai hasil dari analitik tingkat lanjut,” ujar Chwee.

Kendati demikian, penerapan AI ini memang masih ada hambatan di Indonesia terutama dalam sisi keahlian dan biaya. Oleh karena itu, penerapan AI di Indonesia tidak menjadi agenda penting negara-negara di Asia Tenggara.

Selain itu, lebih dari 50 persen perusahaan di Indonesia juga masih belum berencana untuk menerapkan AI dalam lima tahun ke depan.

Chwee mengatakan padahal tingkat kepercayaan pada kapabilitas AI di China dan Korea Selatan mencapai lebih dari 80 persen. Kedua negara ini percaya AI sangat krusial bagi kesuksesan dan daya saing perusahaan dalam beberapa tahun ke depan.

Berdasarkan hasil survei, sebanyak 23 persen responden mengatakan bahwa penerapan AI di Asia Tenggara disebabkan oleh kekurangan kemampuan dan pengetahuan AI. Selain itu, biaya penerapan AI (23 persen) juga merupakan hambatan penerapan AI.

Sumber : CNNIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

four × 2 =