Melacak Penerbangan menggunakan Flightradar24

Melacak Penerbangan menggunakan Flightradar24

Pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT610 dilaporkan jatuh pada Senin (29/10) pagi di Tanjung Karawang, Jawa Barat. Dunia penerbangan Indonesia kembali sedang berduka.

Waktu hilang kontaknya pesawat Lion Air jurusan Jakarta-Pangkal Pinang itu tercatat di aplikasi Flightradar24. Aplikasi pelacak penerbangan pesawat di seluruh dunia itu memantau JT610 terakhir terdeteksi pada pukul 06.31 WIB atau 23.31 UTC (Universal Time) di perairan sekitar Tanjung Karawang, Jawa Barat.

Flightradar24 adalah sebuah layanan berbasis internet yang dapat memperlihatkan informasi lengkap sebuah penerbangan pesawat. Layanan ini dapat memperlihatkan asal dan tujuan penerbangan, nomor penerbangan, jenis pesawat, posisi, ketinggian hingga kecepatan.

Bagaimana cara kerja Flightradar24 ini?

Flightradar24 bisa melacak lalu lintas udara secara langsung, karena aplikasi menggabungkan dan menganalisis sejumlah data penerbangan yang berasal dari teknologi Automatic Dependent Surveillance-Broadcast, teknik Multilateration, FLARM, serta Radar Data Amerika Utara.

Automatic Dependent Surveillance-Broadcast (ADS-B)

Automatic Dependent Surveillance-Broadcast atau ADS-B menjadi sumber informasi penerbangan utama yang dimanfaatkan aplikasi. Teknologi ini tertanam di setiap pesawat, namun ada juga beberapa pesawat non-komersial tidak menyematkannya dengan alasan privasi.

Flightradar24 memiliki jaringan lebih dari 17.000 penerima sinyal atau receiver ADS-B di seluruh dunia, yang menerima informasi penerbangan dari transponder ADS-B dan mengirim data tersebut ke server aplikasi. Sinyal ini dikirim dalam frekuensi 1090 MHz yang cakupannya mencapai 250-450 kilometer di semua arah tergantung.

Singkatnya, pesawat mendapatkan data lokasinya dari navigasi GPS yang dikirim satelit. Transponder ADS-B di pesawat akan mengirim sinyal yang berisi data-data tersebut. Sinyal itu diambil oleh receiver ADS-B milik Flightradar24, yang kemudian diolah dan ditampilkan di situs dan aplikasinya.

Multilateration (MLAT)

Untuk menghitung posisi pesawat yang tak dilengkapi ADS-B, Flightradar24 bakal menggunakan metode Multilateration (MLAT). Teknik navigasi ini dilakukan berdasarkan perhitungan jarak ke dua bandara terdekat yang menjadi acuan.

Dengan mengukur waktu yang diperlukan untuk menerima sinyal dari pesawat dengan Modem-transponder yang lama, memungkinkan untuk Flightradar24 melacak posisi pesawat ini. Sayangnya, MLAT hanya dapat mendeteksi penerbangan di atas 3.000 – 10.000 kaki karena banyak receiver yang sudah bisa menerima sinyal transponder saat ketinggiannya sudah meningkat.

Radar Data Amerika Utara dan Flarm

Selain mengandalkan ADS-B dan MLAT, Flightradar24 juga bekerja sama dengan Radar Data Amerika Utara untuk mendapatkan data tambahan pantauan langsung lalu lintas penerbangan maskapai.

Ada juga teknologi bernama Flarm, versi ringan dari ADS-B. Alat ini biasanya digunakan untuk pesawat berukuran kecil, entah itu komersial, nonkomersial, serta militer, karena jangkauan gelombang radio yang bisa ditangkap oleh receiver Flarm terbilang pendek antara 20-100 kilometer.

Prediksi posisi

Ketika pesawat terbang di luar jangkauan, Flightradar24 masih bisa memperkirakan keberadaan posisi pesawat maksimal selama 2 jam. Dengan catatan, destinasi pesawat diketahui.

Jika tujuan pesawat tidak diketahui, aplikasi hanya sanggup memprediksi posisinya selama 10 menit.

Posisi pesawat di Flightradar24 diprediksi berdasarkan beberapa parameter berbeda. Sebagian kasus penerbangan terbilang akurat, namun untuk pesawat dengan penerbangan jauh posisinya bisa meleset sejauh 100 kilometer.

Tidak Semua Pesawat Bisa Terlacak

Dengan alasan keamanan dan privasi, tidak semua informasi penerbangan terlacak di aplikasi Flightradar24. Beberapa pesawat seperti pesawat militer dan presiden tidak diperkenankan untuk dilacak.

Pesawat Lion Air JT610

Pesawat Lion Air JT610 dijadwalkan terbang dari Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, pada pukul 06.20 dan tiba di Pangkal Pinang pukul 07.20 WIB. Kepala Basarnas M. Syaugi menyebut pesawat hilang kontak pada pukul 06.33 WIB saat berada di ketinggian 2.500 kaki.

Pesawat nahas ini adalah model Boeing 737 Max 8 yang tercatat dengan nomor registrasi PK LQP. Menurut Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), pesawat telah menempuh jam terbang kurang lebih 800 fly hour.

Diketahui pesawat membawa 178 penumpang dewasa, satu anak-anak, dua bayi. Selain itu, kru pesawat berjumlah delapan orang, yang terdiri dari pilot dan co-pilot beserta 6 awak kabin.

Sumber : msn

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

one × three =