Berita

Kompetisi “Making Indonesia 4.0 Startup Tahun 2018” menjadi Bukti RI Mampu Bersaing di Era Industri 4.0

Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan sektor industri kecil dan menengah (IKM) yang terintegrasi dengan teknologi digital di tengah menghadapi era revolusi industri keempat. Apalagi, berdasarkan Peta Jalan Making Indonesia 4.0, aspek penguasaan teknologi akan menjadi penentu utama keberhasilan dalam implementasi Industri 4.0 yang akan memberikan arah yang jelas bagi pergerakan Indonesia di masa depan.

Sebagai leading sector revolusi industri ke-4, Kemenperin berupaya mewujudkan Making Indonesia 4.0 melalui program kompetisi “Making Indonesia 4.0 Startup”. Kompetisi ini bertujuan mempertemukan inovasi startup dengan kebutuhan industri dan masyarakat dengan menyasar teknologi berbasis revolusi industri 4.0 seperti big data, cloud computing, artificial intelligence, Augmented/virtual reality, automation, robotic, internet of things, serta printer 3D.

Sebanyak 161 peserta ikut mendaftar dalam kompetisi yang diluncurkan pada tanggal 6 September 2018 dan menetapkan 15 (lima belas) finalis yang kemudian pitching dihadapan tim juri : Amalia Suzianti (Universitas Indonesia), Benny Soetrisno (Kemenperin), Budiman Wikarsa (AWS), Valencia Dea (Angin), Indra Purnama (Mikti/Angel.id).

Hasil pitching diumumkan pada Semarak Festival IKM 2018 yang merupakan gelaran program dan kegiatan Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah, Kementerian Perindustrian untuk menunjukan kinerja dan prestasi Industri kecil dan menengah (IKM) termasuk di dalamnya para finalis kompetisi startup.

Pada kesempatan tersebut 5 (startup) terbaik mendapatkan hadiah masing-masing sebesar Rp. 50 juta dan diserahkan langsung oleh Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto. “Saya mengajak seluruh aspek masyarakat, asosiasi, komunitas, Kementerian/Lembaga, dan peran swasta untuk bersama-sama berkolaborasi mendukung IKM Indonesia untuk lebih maju khususnya menuju era revolusi industri ke-4 demi masa depan Indonesia yang lebih baik. “ jelas Menperin di sela sambutannya usai memberikan penghargaan (13/12/2018).

Siapa saja para finalis dan 5 startup terbaik dalam ajang kompetisi Making Indonesia 4.0 Startup? 5 (lima) Startup Terbaik :

1. Bantuternak
Bermula dari sociopreneur yang berperan sebagai penghubung antara pemilik modal investasi dengan peternak, Bantuternak mengembangkan Pantauternak sebuah alat berbasis Internet of Things untuk memantau kondisi sapi secara real time. Data yang diberikan meliputi suhu tubuh, perkembangan berat badan, lokasi sapi, dan teknologi anti maling. Startup asal Yogyakarta yang tergabung dalam Innovation Academy ini menyakini Pantauternak akan menjadi potret modernisasi industri peternakan masa depan. www.bantuternak.com.

2. PT. Mitra Sejahtera Membangun Bangsa

MSMB berawal dari startup agriculture technology bernama RiTx yang bertujuan membantu petani lokal Indonesia dengan menciptakan teknologi pertanian yang terintegrasi dengan aplikasi. Berkembang tidak hanya ke pertanian, MSMB memberikan solusi bagi perikanan (FisTx), peternakan (LiTx), dan FoodTx (teknologi pangan). RiTx memanfaatkan sensor-sensor seperti soil & weather sensor dan memberikan data real time melalui aplikasi. www.msmbindonesia.com.

3. Khaira Energy
Startup asal bandung ini hadir sebagai solusi kemandirian dan manajemen energi berbasis teknologi 4.0. Mengkombinasikan sistem baterai pintar dengan energi surya menjadi energi terbarukan yang lebih terjangkau dan efisien. Lebih jauh lagi, Khaira Energy menggabungkannya dengan teknologi penyimpanan cerdas, IoT, serta cloud computing untuk mengajak industri, dunia usaha, bahkan perumahan beralih ke energi terbarukan paling hemat biaya. www.khairaenergy.com.

4. Neurabot
Neurabot menghadirkan solusi TeleLaboratory #1 (Platform Laboratorium Digital) untuk membantu profesi di bidang kesehatan & BioTech memprediksi serta memverifikasi suatu obyek sel dengan artificial intelligence. Startup asal Yogyakarta yang sedang mencari seed funding ini optimis artificial intelligence dapat menciptakan masa depan yang lebih baik di dunia kesehatan. www.neurabot.io.

5. Pigmi Mini 3D Printer
Latar belakang lahirnya Pigmi Mini 3D Printer adalah banyaknya kebutuhan UMKM untuk mencetak 3 dimensi, tetapi tidak semua UMKM mempunyai komputer yang dapat menjalankan printer 3D. Untuk itu, Pigmi didesain untuk dijalankan hanya dengan smartphone saja dan siap memenuhi kebutuhan industri maupun individual seperti pembuatan purwarupa, produk, komponen robotika, cetakan makanan, action figure, dan lainnya. www. Pigmi3d.id.

Sedangkan para finalis kompetisi Making Indonesia 4.0 Startup adalah sebagai berikut :

1. FishOn
FishOn merupakan aplikasi yang dapat digunakan oleh nelayan sebagai pemandu ke tempat berkumpulnya ikan. FishOn mengoptimalkan data yang di dapat dari pencitraan satelit untuk memetakan posisi ikan di seluruh Indonesia. Melalui produknya, FishOn berharap dapat membantu nelayan menghemat biaya operasional dengan hasil tangkapan optimal. Fishon bahkan bisa beroperasi menggunakan koneksi satelit jika di laut tidak ada sinyal operator selular. www.fishon.id.

2. eTanee
Lahir dari pengamatan akan rantai logistik dan pengiriman produk pangan yang kurang efisien, eTanee membangun ekosistem rantai pasok digital sekaligus marketplace. eTanee menggunakan teknologi system automation dan cloud computing untuk menghubungkan rantai supply, logistik, order dan pengantaran ke lokasi konsumen. Ditambah dengan teknologi location based marketplace sehingga produk yang dibeli di antar di hari yang sama dengan waktu kurang dari 60 menit. www.eTanee.id

3. Mokko Engineering
Startup besutan anak-anak Surabaya lulusan teknik elektro ini fokus di bidang sistem otomasi (mekanik dan elektrik), modifikasi mesin, training centre, serta konsultansi sistem otomasi. Mokko mengajak masyarakat menggunakan mesin industri buatan dalam negeri yang mampu menyaingi mesin-mesin dari luar negeri. Startup inkubasi dari UPT Inkubator ITS membawa hasil karyanya yaitu mesin quality control pendeteksi bumbu mie (noodle seasoning checker).

4. Jeager

Seiring dengan berkembangnya teknologi Internet of things, para founder jeager melakukan riset dan validasi solusi IoT untuk membantu industri manufaktur nasional. Jeager mengklaim produknya mampu membantu perusahaan manufaktur mendapatkan data mesin secara realtime dan valid, serta membantu pemeliharaan dan perawatan mesin berbasis predictive analytics. www.jeager.io.

5. Machine Vision
Startup asal Surabaya ini mengusung misi peningkatan produktivitas manufaktur melalui IoT dan Big Data. Melihat kondisi manufaktur Indonesia yang padat karya, Machine Vision percaya Overall Equipment Effectiveness (OEE) sebuah perusahaan merupakan interaksi antara manusia dan mesin yang harmonis. www.machinevision.global.

6. Kharisma Corp

Dari kota hujan Bogor, startup berbasis smart farming pada green house ini berawal ketika para foundernya praktik lapangan dan menemukan kendala dimana para pekerja harus berkeliling greenhouse untuk pengambilan data. Kharisma corp memberikan solusi Crop Hero 1.0 dan Crop Hero 2.0 yang sudah dilengkapi dengan sensor suhu, kelembaban, dan intensitas cahaya. Crop Hero 2.0 sudah dilengkapi dengan fitur internet of things dimana pengguna dapat memantau data yang dihasilkan lewat gawai. IG : @kharismacrop.

7. Neurafarm
Dengan visi menyediakan teknologi untuk modernisasi proses dan kegiatan pertanian, startup hasil inkubasi LPIK Institut Teknologi Bandung melahirkan “Dr. Tania” sebuah aplikasi berbasis artificial intelligence dalam bentuk chatbot yang memberikan solusi lengkap penanganan penyakit tanaman dari hasil deteksi foto. www.neurafarm.com.

8. Linimasa AR Card Game

Linimasa Augmented Reality Card Game adalah wujud impian masa kecil dari sang founder, yaitu menjadikan pelajaran sejarah mudah dan menyenangkan lewat game. Melalui teknologi augmented reality dan dikemas dalam bentuk permainan, startup asal kota Pahlawan Surabaya ini menjual produknya dengan harga cukup terjangkau yaitu Rp. 85 ribu. IG : linimasa.sejarah.cardgames.

9. Mapid
Startup asal Bandung ini membawa semangat generasi milenial yang siap menghadapi revolusi industri 4.0. Mapid menggabungkan pemanfaatan data geospasial dan internet of things menjadi sebuah platform berbasis peta yang dapat diintegrasikan dengan berbagai macam sensor untuk monitoring secara otomatis, dan dapat digunakan oleh siapa saja secara masal. www.mapid.io.

10. Biops Agrotekno

Menyadari bahwa pertanian merupakan sektor penting bagi Indonesia, startup asal LPIK ITB ini percaya bahwa kemajuan dan kemandirian pertanian Indonesia akan terwujud dengan adanya inovasi dan penerapan teknologi. Biops Agrotekno membangun Encomotion yang terdiri dari 3 modul yaitu data logger yang merekam kondisi lingkungan, aktuator yang menerima perintah dari server untuk melakukan penyiraman, serta mobile application yang dapat memberikan informasi real time kepada pengguna sistem.

Kompetisi Making Indonesia Startup 4.0 membuktikan bahwa Indonesia mampu dan optimis mewujudkan Making Indonesia 4.0.

Sumber : KOMPAS.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

4 × two =