Harapan Indonesia Tetap Ramah Disabilitas Setelah Asian Para Games

Asian Para Games 2018 resmi ditutup. Berakhirnya multievent ini pun memunculkan harapan lebih, khususnya kesetaraan bagi penyandang disabilitas.

Penutupan Asian Para Games berlangsung di Stadion Madya, Senayan, pada Sabtu (13/10/2018). Delapan hari penuh, 2.762 atlet dari 43 negara berjuang untuk menjadi yang terbaik di multievent olahraga se-Asia tersebut.

Lebih dari itu, tujuan dari penyelenggaraan diharapkan memberi dampak lebih khususnya kesetaraan untuk beberapa aspek bagi penyandang disabilitas. Baik itu transportasi, pendidikan, dan lapangan pekerjaan.

“Saatnya saya mendeklarasikan bahwa Asian Para Games 2018 di Indonesia ditutup,” ucap Majid Rashed sebagai Presiden Asian Paralympic Committee (APC), lewat pidatonya di Stadion Madya, Gelora Bung Karno (GBK).

Sebagai pemilik hajat Asian Para Games, Majid sendiri tak henti-hentinya memuji Indonesia Asian Para Games Organizing Committee (INAPGOC) yang dinilainya sukses menjadi penyelenggara hanya dengan persiapan selama 15 bulan.

Beberapa rekor pun pecah di Jakarta, salah satunya total 43 National Paralympic Committee (NPC) se-Asia yang semuanya hadir berpartisipasi memperebutkan lebih dari 500 emas. Sebanyak 2.832 atlet dan 1.000 media serta 8.000 volunter pun meramaikan multievent ini.

“Pertama kali juga Unifikasi Korea berparade dan bertanding bersama di Asian Para Games dan dapat medali di cabang olahraga para renang,” ucap Majid.

“Kalian tahu bahwa ini lebih dari pertandingan dan medali. Terima kasih kepada warga Indonesia. Dengan dukungan kepada atlet, mereka bisa merasa seperti pahlawan. Terima kasih kepada INAPGOC yang meningkatkan standar penyelenggaraan. Dan ya, ini adalah Asian Para Games terbaik,” katanya.

Namun, di balik puja-puji yang diberikan Majid, ia pun menitipkan warisan ramah disabilitas bagi masyarakat Indonesia. Dengan hadirnya Asian Para Games kali pertama di Tanah Air, Majid menilai Indonesia semakin sadar pentingnya kesetaraan.

Kesadaran ramah disabilitas itulah yang disebut Majid, juga Ketua INAPGOC, Raja Sapta Oktohari, sebagai warisan terhebat yang ditinggalkan kepada bangsa Indonesia. Pemerintah, menurut Majid, harus bisa menjamin kesempatan yang sama bagi disabilitas di Indonesia.

“Tak hanya di ranah olahraga, tapi juga hiburan dan lainnya. Kebutuhan penyandang disabilitas juga harus terpenuhi. Soal gedung (infrastruktur), tak perlu proyek besar. Sudah ada kodenya, yang sulit memperbarui yang sudah ada hingga ramah disabilitas,” kata Majid terpisah, saat ditemui di GBK Arena sebelum closing ceremony dimulai.

“Semua harus dimulai sejak Asian Para Games. Contohnya belum banyak yang tahu cara buat ramp yang tepat, pada akhirnya kini lewat Asian Para Games, kalian sudah tahu (yang benar),” pungkasnya.

Bagi Okto –sapaan akrab Raja Sapta Oktohari, Asian Para Games pertama di Indonesia juga membuka gerbang baru bagi kehidupan penyandang disabilitas. Ia pun berharap hasil dari persiapan dan pelaksanaan Asian Para Games bisa menjadi rekomendasi yang bisa dicatat pemerintah.

“Kita sudah berhasil di Asian Games dan berhasil juga di Asian Para Games. Kita bisa gaungkan awareness terhadap disabilitas, yang penting ada kemauan. Ada ribuan atlet disabilitas yang datang ke Jakarta, hampir semua puas dengan pekerjaan kami,” kata Okto.

“Kesuksesan juga berkat seluruh masyarakat Indonesia. Saya bagian dari masyarakat, menteri, presiden, hingga volunteer, kita bisa buktikan bahwa sebagai bangsa, Indonesia sukses menjadi penyelenggara,” pungkasnya.

Resmi ditutup, kontingen NPC Indonesia sendiri sukses melebihi target awal 16 emas di tujuh besar. Secara keseluruhan, skuat ‘Merah Putih’ berhasil mengumpulkan 135 medali dengan rincian 37 emas, 47 perak, dan 51 perunggu di Asian Para Games 2018.

Sumber: https://kumparan.com/@kumparansport/semoga-indonesia-tetap-ramah-disabilitas-setelah-asian-para-games-1539447315418926008

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

fourteen − 14 =